Action of the years, sebutan itu terdengar memang cocok
disematkan untuk sebuah film terbaru, HEADSHOT. Film yang menampilkan berbagai
adegan baku hantam dengan berbagai teknik bela diri ini memang sangat terkesan
menakjubkan. Dari awal hingga film berakhir, penonton akan menyaksikan darah,
darah, dan darah. Berlebihankah? Untuk saya yang menyukai darah, mungkin itu
adalah hal yang tidak mengganggu. Buku motivasi, mungkin itu cocok saya sematkan untuk buku yang terakhir saya baca beberapa hari yang lalu. Kenapa? Karena nggak tau kenapa, setelah membaca buku dengan judul JOMBLO NGOCEH ini, saya kok jadi agak bijak gitu dan hasrat saya untuk melanjutkan novel saya yang tak kunjung rampung itu mulai muncul lagi.
Kali ini gue pengen ngereview film di luar genre
kesukaan gue. Dan belum pernah ada di blog ini. So, this is my first time to review drama movie.
Entah kenapa gue jatuh hati sama film itu, sampe gue
pun nonton twice and want more. Ya,
gue serius tentang masalah ini. Cuman, waktu gue membatasi, gue bakal UAS dan
kudu prepare dari jauh-jauh hari di
minggu tenang ini! Biar bisa S2 di Netherland kayak film NEGERI VAN ORANJE. Aamiin.
"Sahabat. Ikut berjuang mewujudkan impianmu, sesulit atau sesederhana apapun itu."
Film horror. Salah satu
genre film yang masih menjadi primadona di negara kita, Indonesia, bahkan bisa
dikatakan genre yang satu ini memiliki peminat yang besar di seluruh dunia.
Kali ini saya ingin
berkomentar sedikit mengenai film horror Indonesia yang belakangan ini sudah
kembali ke masa kejayaannya setelah sekian tahun terkubur dalam jeruji filmmaker yang kurang cerdas mengangkat
sebuah ketakutanan menjadi tontonan yang menyenangkan, seperti yang seharusnya.
Sudah pasti kita semua
tau kalau beberapa tahun yang lalu film horror Indonesia mengalami metamorfosa
tak wajar yang dilakukan besar-besaran oleh filmmaker
yang hanya mengejar keuntungan semata tanpa memberikan hiburan yang memuaskan
bagi para penontonnya. Film horror yang sebenarnya menyajikan kengerian berubah
menjadi horror yang mengantarkan nafsu setiap orang menuju ubun-ubun mereka
melalui adegan esek-esek yang terlalu berlebihan. Ini mah film porno yang
identitas aslinya tersembunyi oleh embel-embel genre film horror. Atau, film
horror yang membuang rasa takut seseorang menjadi tawa bahagia? Itu sih namanya
merusak image film horror yang telah dibangun oleh para pencerita zaman kita
kecil dahulu. Ah...
Tapi, tenang. Saat ini, seperti yang sudah saya katakan, film horror yang dahulunya bermetamorfosa secara amburadul kini kembali
kefitrahnya. Film horror telah hadir lagi sebagai media pemacu adrenalin yang
handal. Terlebih belakangan ini genre
thriller yang merupakan sahabat terbaik/ anak dari genre horror mulai lahir di
Indonesia menjadi santapan menarik untuk para penikmat film, khususnya penonton
Indonesia.
Nah, itulah yang mendasari saya ingin menulis cerita ini sebagai media saya untuk mereview sebuah film thriller yang akan tayang tahun depan. Dialah, Midnight Show.
Midnight Show merupakan
film baru yang dirangkul oleh rumah produksi Renee Pictures, yang sebelumnya
telah merilis sebuah film horror hantu lokal yang telah lama tidak diangkat
lagi sebagai hantu utama dalam sebuah film horror, Tuyul: Part 1.
Adalah HEADSHOT, sebuah judul film baru yang merupakan kabar baik bagi pecinta film action Indonesia. Film tersebut juga menjadi pengobat rasa rindu para penonton yang menantikan sebuah karya dari sutradara kenamaan Indonesia, Timo Tjahjanto yang sebelumnya di tahun 2014 lalu berencana membuat film bertakjub “The Night Comes for Us” bersama Gareth Huw Evans yang notabene adalah sutradara yang mengangkat nama Indonesia ke kancah internasional melalui dua karyanya, yaitu “The Raid: Redemption” dan “The Raid 2: Berandal”.
Namun cukup
disayangkan memang, The Night Comes for Us (biasa disingkat TNCFU) ini harus
gagal produksi di tengah jalan karena alasan yang belum saya ketahui hingga
saat ini. Kabarnya, TNCFU tidak sepenuhnya mati untuk memenuhi kepuasan para
penikmat film, sebab project film
TNCFU tersebut digadang-gadang diubah menjadi project graphic novel dengan kemungkinan besar menggunakan judul
yang sama. Sampai saat ini belum ada informasi lanjutan mengenai perkembangan
graphic novel yang dimaksud.
Thanks for the sorrow. #TNCFU not dead yet, likely comes to life in form of G.Novel. some dreams takes path less & further travelled. 🚣— Timo Tjahjanto (@Timobros) December 19, 2014
Nah, kehadiran HEADSHOT di sini menurut saya dapat
dikatakan menjadi pengganti gagalnya TNCFU. Atau bisa saja tidak ada kaitan di
antara keduanya.
Dilansir dari beberapa website, film HEADSHOT akan
menjadi ajang reuni bagi pemeran-pemeran dalam film The Raid 2: Berandal. Hal
tersebut diperkuat lagi dengan adanya koleksi foto yang menggambarkan di dalam
film ini Iko Uwais hadir menjadi tokoh utama yang kembali bertemu dengan dua
kakak-beradik, Hammer Girl (Julie Estelle) dan BaseballBat Man (Very Tri
Yulisman, di Headshot sebagai Besi).
A photo posted by julie estelle Gasnier (@julstelle) on
Dilihat dari koleksi foto yang lain, kemunculan
Chelsea Islan (Ailin) menjadi kejutan selanjutnya yang diberikan oleh film HEADSHOT
ini. Selain itu Sunny Pang (Lee) dan David
Hendrawan (Tejo) juga ikut andil mengisi setiap adegan dalam film.
Young Iko's gonna have a tough time ahead of him #headshot pic.twitter.com/Sps7H60PbQ— Timo Tjahjanto (@Timobros) October 24, 2015
A photo posted by HEADSHOT OFFICIAL ACCOUNT (@headshot_id) on
HEADSHOT sendiri merupakan film yang akan diarahkan
oleh duo maut Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (The Mo Brothers), dimana
keduanya telah melahirkan beberapa film sukses, sebut saja seperti Dara (segmen terakhir di film Takut: Faces of Fear), Rumah Dara/Macabre, dan terakhir adalah
Killers (Februari 2014) yang berkolaborasi
dengan production house Jepang.
Untuk itu, ini adalah kali kedua The Mo Brothers bekerjasama
dengan Julie Estelle (as Rika - Headshot) yang mana mereka pernah dipertemukan dalam
film Rumah Dara sebagai Ladya.
HEADSHOT direncanakan akan rilis pada bulan Juli tahun depan. Kita tunggu saja perkembangan beritanya....
Storyline
Uwais plays a young man who washes ashore, an amnesiac with a serious head injury whose past comes back to haunt him shortly after being nursed back to health by a young doctor. Violence ensues. Sweet, sweet violence.
For
more informations about them, please follow official account of HEADSHOT on twitter
(@headshot_ID) and instagram (@headshot_id).
Hay, perkenalkan aku si hitam dari
pulau seberang. Ingin bercerita sebuah cerita yang berasal dari temanku yang
sering kali mendapat hadiah (palsu). Aku akan menceritakan sebagian ceritanya
dengan menggunakan sudut pandang aku sebagai dirinya. Kuharap kau mengerti.
Baiklah kita mulai.
Hal
buruk. Aku berani jamin tidak ada yang ingin mendapatkannya walaupun secara
gratis sekalipun. Yah, termasuk aku. Sungguh, aku benci dengan hal-hal yang
membuat diriku tidak nyaman. Tapi aku tersadar, ini hidup, mau tidak mau aku
pasti akan mengalaminya.
Siapa
mengira kebaikan akan memberikan hal baik juga dan menghindari siapa pun dari
hal buruk. Salah! Salah besar! Kebaikan juga dapat mendatangkan petaka bagi
yang melakukannya. Contohnya seperti aku yang tak berdaya ini.
Rasa
dengki, iri, benci, dan kawan-kawannya bisa membuat seseorang menjadi gelap
mata meskipun kebaikan selalu diberi lawannya. Mungkin, karena tidak berani
mengemukakan perasaannya melalui komunikasi, jadi rasa yang amat menyiksa itu
justru mengendap dan mendarah daging di tubuhnya, bisa dibilang seperti parasit
yang haus akan sebuah tindakan balas dendam.
Ah,
tau apa aku tentang hal ini. Apakah aku hanya kebanyakan nonton sinetron atau
membaca novel ba-bi-bu itu? Dan jawabannya adalah, aku tidak tau! Kayaknya aku
cuma sok tau. Sebenarnya tidak, aku tau ini, aku tau semua tentang hal ini, ya,
aku tau karena aku pernah mengalaminya, sebagai korban.
Please,
kalian tidak perlu syok gini. Kalau mengizinkan, aku akan bercerita sedikit
mengenai pengalaman pahit yang kualami.
Kebaikan
yang aku berikan secara tulus ternyata dipandang sebelah mata. Aku sih heran.
Kenapa kebaikan itu dinilai keburukan dan ancaman bagi mereka?. Aku tidak tau,
kali ini benar-benar tidak tau.
Tidak
sekali, atau dua kali, tapi tiga kali. Bayangkan? Apa sih yang membuat pikiran
mereka jadi seperti itu? Apa tidak ada jalan lain untuk memperbaiki hati mereka
yang compang-camping? Apa harus mereka melakukan tindakan keji untuk kawannya
yang sebenarnya lawan baginya? Sudahlah, aku bukan orang yang gampang memasuki
pikiran orang lain dan membaca setiap kebusukan yang ada.
Untuk
saat ini aku hanya bisa mengelus dada dan bersabar. Aku tidak pernah memandang
kejahatan mereka sebagai kejahatan ataupun ancaman. Aku akan seperti aku
sebelum mereka melakukannya.
Aku
percaya, sisi putih dalam hitam masih bisa berkuasa menjernihkan hati mereka
yang memekat. Aku percaya, semua akan baik-baik saja. Aku percaya, aku tetap
mencintai kalian seperti sedia kala.
Apa
aku harus mengakhiri cerita ini? Aku tau kalian belum puas atas apa yang sudah
aku tulis. Jadi, baiklah akan kuteruskan cerita yang tidak bahagia ini sebagai
bacaan untuk kalian yang hanya kepo, bukan peduli.
Berawal
dari masuknya aku pada usia 17 tahun. Ah, aku sungguh lemah sehingga apa pun
bisa mudah memengaruhiku. Kulitku jadi melepuh haha... badanku jadi
berbintik... kejadiannya menyakitkan.
Dan,
setahun lamanya aku terbebas dari kutukan itu, akhirnya aku dapat istirahat.
Tapi istirahat itu membuatku lengah dan ya begitulah... aku kena lagi.
Langganan. Kali ini sih bukan berhubungan dengan kulit tak sehatku, namun
berhubungan dengan pencernaan. Pencernaan? Sebenarnya sih aku cukup bingung dan
asdfghjkl. Juga demam yang tak turun-turun berhari-hari, bukan! Maksudku
berminggu-minggu. Cukup, aku tak mau mengingat lagi. Intinya sih rasanya sakit.
Amat.
Apa
aku harus mengakhiri cerita ini? Iya, kali ini aku benar-benar ingin mengakhiri
cerita yang sebenarnya tak patut aku ceritakan. Sebaiknya, aku menceritakan
betapa bahagianya diriku bisa mengenal kalian sebagai seseorang yang baik. Aku
tak pernah memandang diri kalian dalam kegelapan. Karena kutahu, itu hanya
kekhilafan kalian semata. Aku mencintai kalian, sobat.
Begitulah sebagian kecil cerita
dari temanku itu. Aku sih tak tau persis bagaimana kejadian yang sesungguhnya.
Aku juga masih belum ngeh dengan ceritanya yang terdengar ambigu. Atau aku saja
yang bloon, bodo, idiot.
Sudahlah, kita lanjut dilain waktu
saja, ya. Salam dariku dan temanku itu.
Hello
makhluk-makhluk dari berbagai spesies. Gimana kabar lo pada? Baik kan?
Setidaknya (bisa jadi) sama kayak gue yang terus-terusan menggalau
#ahguebohongkok hehehe. Btw, cepet banget yah gue nongol lagi di tempat sampah
online ini. Hmmm... tapi bodo amat ah.
Beberapa
hari yang lalu, di sini, gue udah keluarin sedikit uneg-uneg gue, ya. (yang
belum baca klik di sini!). Sekarang, gue bakal ngajakin lo untuk
bersenang-senang.
Minggu,
24 Mei 2015. Pukul (kurang lebih) 4 pagi.
Gue
bangun dari tidur yang sukses mengantar gue menuju alam penuh angan, alam yang
tak pernah terduga, dan alam yang berbeda.
Huh,
dinginnya pagi terlalu bersemangat membuat gue nyaris kembali menarik selimut
yang sebenernya ngga pernah gue pake selama berbaring di ranjang tadi. Jadi,
daripada gue beneran narik tuh selimut, alhasil akhirnya gue membuka laptop
sembari bongkar foto-foto aib gitu... dan tentunya sambil menunggu azan Subuh
#CeilehAlimCeritanya.
Pukul
5 pagi... sepertinya sebentar lagi suara azan bakal berkumandang membangunkan
setiap manusia beriman untuk segera melaksanakan kewajibannya. Karena hal itu
otomatis gue mempersiapkan diri buat mandi dan tidak lupa bernyanyi layaknya
professional bathroom singer. Yah, begitulah aktivitas gue di pagi buta seperti
itu (Sebenernya sih ngga gitu-gitu amat).
Kenapa
gue mandinya pagi-pagi sekali yah? Padahal ini kan hari Minggu? Libur loh! Dan
bukannya hari Minggu (hari libur) itu, harinya para pelajar/mahasiswa seperti
gue ini mandinya 1 kali sehari? Biasanya sih demikian.
Baiklah.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas tak lain dan tak bukan karena gue
diajakin ikutan CFD (baca: Car Free Day) di Udayana.
Segala
persiapan sudah sip. Termasuk sketsa Bapak Presiden kita juga udah gue bawa di
dalam backpack anti-iluminati gue. Sekarang giliran gue nungguin temen gue buat
berangkat ke TKP samaan.
Sial!
Sampe jam segini batang idung tuh anak kok belum nampak. Di mana... di mana...
di mana... (Alamat Palsu – Ayu TingTing). Di mana dia? Gue udah siap loh ini.
Fyuhh, gue nunggunya sambil nyanyi-nyanyi gitu sampe suara gue hampir habis.
Tapi sebenernya sih gue ngga masalah buat dateng telat, toh sebenarnya gue ngga
diwajibin buat dateng kok haha... Jadi selow aja atuh mah....
Beberapa
menit kemudian.
Akhirnya
yang ditunggu-tunggu dateng bersama si... ah dia ngga barengan sama Rapael (?)
Mana Rapael? Rupanya si Rapael sedang istirahat kali, ya, maklum dia lagi
sakit-sakitan sekarang, hiks. (Bagi yang mengira Rapael itu manusia, maka lo salah besar). Oke skip.
Gue
dan temen gue (sebut saja namanya Mawar Jhovy) pun berangkat.
Lagi.
Di perjalanan, gue ngga berenti-berentinya ngeluarin suara perunggu ini, huh
mudahan aja ngga ada yang mual ngedengernya. Syalalalalala. Sampe ngga kerasa akhirnya
kita sampai. Dan sedikit telat, agak telat, cukup telat, bahkan lumayan telat.
CFD
kali ini, kampus gue ngadain kayak sosialisasi gitu tentang Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) alias ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Lo tau kan apa itu AEC? Kalo belum tau
mending cari tau dulu gih, browsing kek. Oke?!
Banyak
lho kegiatan yang menyemaraki rangkaian acara sosialisasi ini. Mulai dari
pengenalan tentang AEC itu sendiri sampe acara hiburan seperti tarian,
nyanyian, dan kuis.
FYI:
ASEAN
Economic Community (AEC) adalah sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam
menghadapi perdagangan bebas antarnegara-negara ASEAN. Seluruh negara
anggota ASEAN telah menyepakati perjanjian ini. MEA dirancang untuk
mewujudkan Wawasan ASEAN 2020.
Dalam menghadapi
persaingan yang teramat ketat selama MEA ini, negara-negara ASEAN haruslah
mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan
kompetitif. (sumber:
Wikipedia).
Hmm...
sebenernya sih gue ngga fokus membicarakan tentang kegiatan itu di sini. Tujuan
utamanya sih, gue mau berbagi kesenangan aja.
Mau
tau kesenangan yang gue maksud? Cekidot:
Noh,
lo bisa lihat sendiri kan gimana suasana pagi di Udayana saat Car Free Day?. Rame
yah. Cuma gue masih rada bingung, kok motor/mobil atau kendaraan bermesin
lainnya ngga ada berlalu-lalang sih? Kan gue kangen... apa semua benda-benda
itu sudah dimusnahkan dari Bumi?
Assalamu’alaikum,
sodarah-sodarah. Lama juga yah gue ngga ngeblog lagi terhitung dari postingan
terakhir di sini. Sebenernya sih kalo diakumulasiin, gue ngga buka atau sekadar
cek blog itu sekitar 2 bulanan (FYI: beberapa postingan gue hapus). Untungnya
sih belum ada gembel yang mangkal di tempat sampah online yang gue lupakan ini.
Jadi gue ngga perlu repot-repot buat ngusir mereka.
Yaaaahhh
itu semua terjadi karena gue dalam keadaan sedang diuji sama Allah dengan tugas
yang bertubi-tubi menumpuk di pundak gue yang lemah ini. Hiks.
Dan
alhamdulillah ya (ala-ala sticker Syr), setidaknya kali ini gue punya sedikit
waktu untuk (mungkin) nyampah buat ngebuang uneg-uneg yang sekian lama menyiksa batin
gue yang mulai rapuh. #Ceileh
Oke,
mari kita mulai.
Gini
nih. Baru pertama kalinya gue itu di dalam kelas merasa seperti sampah yang
sama sekali ngga bisa didaur-ulang. Kalo kondisi kelas ngga seperti berkubu
gitu sih gue ngga bakal begini kok. Percaya deh. Terlebih kalo AC di kelas
disfungsi yang kemudian secara otomatis membuat gue semakin kegerahan. Nasib oh
nasib....
Kelas
berkubu. Bener, di kelas gue itu kayak ada bagian-bagiannya. Ada bagian cewek,
ada bagian cowok, ada bagian orang berkantong tebal, ada bagian keturunan
Einstein, dan ada bagian manusia bertopeng.
Pokoknya
kelas gue ngga kerasa banget kekeluargaannya. Bahkan hingga saat ini (hampir
setahun loh) gue ngga kenal sama beberapa makhluk-makhluk yang menghuni kelas
gue. Sedih memang. Tapi salah gue juga kayaknya, jadi lelaki ciptaan Tuhan kok
masih malu menyapa duluan. Harap maklum aja, gue masih unyu-unyu sih.
Berbicara
tentang kelas berkubu, gue punya hot news nih. Hot news yang bener-bener hot.
Apa itu? Kelas gue semakin lama semakin berkubu meski perkubuan itu agak samar.
Terkadang gue pun tertawa sendiri di dalem hati gue yang peka ini melihat
segala hal yang mata gue tangkap. “Kenapa bisa begini, ya? Hahaha.”
Mau
tidak mau, keadaan seperti itu membuat gue terpaksa menciptakan kubu tersendiri
yang anggotanya terdiri dari berbagai kalangan dan kasta. Tapi percayalah, kubu
gue belum ada pengakuan lho, baik secara de facto maupun de jure. Kubu gue ini
diciptakan untuk orang-orang yang hatinya masih jernih. Natural.
So,
rasanya tidak penting membicarakan kubu yang sekarang terlanjur klop dengan lubuk hati gue. Gimana
kalo kita bicarain kubu sebelah aja yuk?!
Astaga,
sebenernya ngga baik sih ngomongin orang. Tapi apa boleh buat, ya, gue rada
ngga nyaman aja sama mereka-mereka yang tergabung dalam kubu buatan mereka. Semoga
saja salah satu dari mereka nyempatin buat baca tulisan ngga penting ini. Dan berharap
dengan itu mereka bisa sadar (sedikit mustahil).
Bisa
dikatakan mereka busuk. Lebih busuk dari bangkai tikus yang dikerubungi lalat
hijau dan belatung.
“Punya temen baru, temen lama
dilupakan”
Pas
banget dah kata-kata itu buat ngedeskripsiin mereka.
“Kalo ada maunya aja nyari, tapi
kalo lagi seneng-seneng malah lupa”
Nah
itu semakin pas buat nyebut mereka kayak apa, dari jenis apa.
Dan
ternyata, selain gue dan hati gue yang ngerasain hal itu. Orang lain bisa
ngerasain itu kok. Ngga satu-dua orang mungkin, karena feeling gue berkata
masih ada orang yang belum berani ngeluapin perasaannya.
Kenapa
ya gue berani ngejudge mereka seperti itu? Ah alasannya sih banyak, tapi
berhubung gue capek ngetiknya, jadi gue bongkar sedikit aja.
1. Sindiran
yang disiratkan
2. Ngajakin
pas udah nyerah
3. Pulang
pas gue dateng, entah alasannya apa
4. Berubah
kek power rangers pink
5. Kata-kata
dusta yang mereka ciptakan
6. dan
bla-bla-bla-bla...
Eh
terserah loh ya kalo kalian bilang gue ini terlalu amat sensitif banget. Gue ngga peduli. Gue
cuma mau kelas gue itu hangat seperti selayaknya kelas yang hangat. Gue pengen
gue bisa ngerasa nyaman kalo ada di kelas.
Fyuh...
Kalo disuruh pilih kuburan atau kelas. Gue akan dengan tegas milih kuburan. Walaupun
sepi tapi suasananya bikin rileks. Inget mati.
Dan kenapa gue ngga milih kelas?
Jawabannya sih udah jelas banget. Sama seperti yang udah gue bilang di atas. Pertama,
kelas gue itu ngga nyaman, percuma aja orang-orangnya banyak. Kedua, gerah gue,
gerah karena ngga ada AC dan gerah ngelihat kelakuan mereka yang merasa
hidupnya abadi. Ketiga, kelas gue ada lebahnya (mengisyaratkan bahwa isi kelas
gue itu ada yang suka menyengat), dan di kelas gue juga ada kotoran kucing
(baca: tai kucing) lho (menandakan bahwa di kelas gue juga ada yang busuk,
bahkan lebih busuk dari benda setengah kering di pojokan kelas gue itu).
Hahahaha....
Makanya di situ kadang saya merasa sedih.
Ah,
udahan aja yuk. Mungkin lu bosen ngebaca postingan ini, atau bahkan ngga
tertarik buat baca, atau mungkin yang terlanjur baca bakalan muntah-muntah
karena postingan ini isinya sampah tak berguna.
Huft,
ini kali pertamanya gue ngeposting unrg-uneg! Sebenernya ngga enak. Cuma kalo
ditahan terus-terusan, jadi berasa nyiksa diri. Dan daripada cerita ke manusia
kepo, lebih baik ke blog gue yang setia ini walaupun dia tau gue sekarang lebih
sering ke wattpad (kasihan blog gue, gue selingkuhin).
Yaudah,
berhubung masih banyak deadline yang sedang gue kerjakan, jadi sampai jumpa di
postingan berikutnya, ya... Semoga next isinya lebih mendidik.
Follow Me
Popular Posts
-
Kali ini gue pengen ngereview film di luar genre kesukaan gue. Dan belum pernah ada di blog ini. So, this is my first time to review drama...
-
BAB II Pembahasan 2.1. Lokasi/Letak Perusahaan 2.1.1. Pengertian Lokasi Perusahaan adalah suatu tempat di mana perusahaan ...
-
Sebuah kebanggaan bisa menikmati lagi karya amazing dari idola sejuta umat, siapa lagi kalau bukan Bondan Prakoso. Hari ini, Senin, 08 D...
Labels Cloud
Diberdayakan oleh Blogger.




