Pages

[REVIEW] LEGENDA KELAM MALIN KUNDANG: Reinterpretasi Cerita Klasik menjadi Lebih Relevan

 

LEGENDA KELAM MALIN KUNDANG (2025) -- Dekonstruksi cerita rakyat klasik asal Padang - Sumatera Barat menjadi sebuah film menawarkan perspektif menarik yang dapat mengubah makna durhaka ke arah yang lebih relevan. Ruang baru yang diciptakan oleh Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo dalam debut mereka membawa legenda Malin Kundang ke situasi yang lebih gelap. Pasalnya kisah ini tidak lagi mengeksplorasi kutukan mistis melainkan diinterpretasikan ulang dalam balutan genre psychological-thriller dan penuh misteri.

Babak pertama film mengantar kita untuk berkenalan pada sosok Alif (Rio Dewanto), seorang seniman micro-painting yang sedang berjuang menyusun kembali kepingan memorinya setelah mengalami kecelakaan hebat. Alif justru terseret ke dalam pusaran keraguan. Dari ketidakpastian kebenaran itulah tumbuh problem yang kemudian berkembang menjadi rangkaian konflik panjang untuk menemukan rahasia yang telah terkubur 18 tahun lamanya.

Distorsi kian mengemuka sejak perempuan yang mengaku sebagai Amak Alif (Vonny Anggraini) masuk dalam kehidupan keluarga Alif dan Nadin (Faradina Mufti). Klaim tersebut tidak mampu dibuktikan, namun perempuan itu mengetahui terlalu banyak detail kecil tentang masa lalunya. Berawal dari sinilah alur membuka jalur penyelidikan yang terasa efektif menahan perhatian penonton. Setiap pasang mata dipaksa untuk mencerna trauma yang dialami Alif dengan memainkan ritme untuk membangun pertanyaan melalui petunjuk kecil yang semakin menggiring kita lebih adiktif menuju misteri sesungguhnya.

Sayangnya, meskipun twist yang diberikan cukup membuat tayangan ini sangat kelam. Fase di paruh akhir cerita justru terkesan begitu tergesa-gesa. Alih-alih mengajak penonton ikut meraba dalam menuturkan fakta, malah terlalu disuapi dengan aksi monoton tanpa variasi dramatik. Hal ini juga dipengaruhi dari penuturan rekam medis dan kondisi psikis Alif yang tidak dijelaskan dengan tuntas sehingga menimbulkan ambiguitas, yang pada akhirnya membuat penyelesaian konflik dan pemulihan karakter terasa kurang grounded dan belum memiliki fondasi emosional dan ilmiah yang solid.


Film produksi Come and See Pictures ini tentunya perlu di apresiasi juga atas keberaniannya melakukan pengambilan gambar on location yang menyoroti perbedaan kelas sosial, di mana kehidupan masyarakat kecil diekspos tanpa mengubah kenyataannya dan tetap sukses memberikan ketegangan. Tentu dalam membangun atmosfer misterius, permainan visual memberikan imbas terhadap apa yang akan penikmat film rasakan. Secara teknis, penonton seolah dibawa ikut melekat pada diri Alif yang penuh dengan paranoia dan fragmentasi ingatan. Sinematografi gelap dengan pencahayaan bernuansa dingin dan komposisi ruang yang sempit menyalakan rasa terkurung, mempertebal vibrasi kegelisahan yang tak pernah benar-benar reda. Perasaan tidak nyaman dan tegang yang dirasakan audiens semakin mencuak dari scoring dan efek suara yang intens, menjauh dari horor jumpscare klasik.

Namun jejak Joko Anwar dalam film ini begitu kuat. Sentuhan khas Joko Anwar sebagai penulis dan produser membuat estetika akhirnya memang lebih menyerupai film Joko Anwar lainnya ketimbang debut yang menunjukkan gaya visual dan naratif sutradara baru. Akibatnya kesempatan kreatif sutradara sedikit tenggelam oleh dominasi sang produser. Bahkan dalam promosinya, nama Joko Anwar menjadi sorotan utama.


Performa Rio Dewanto dalam memerankan tokoh Alif terlihat menonjol karena berhasil mempersembahkan karakter yang penuh lapisan emosi, mulai dari kebingungan akibat amnesia (seperti tokoh yang pernah diperankannya juga dalam film Modus Anomali) hingga pergumulan batin terhadap sosok ibu yang ia ragukan namun terasa begitu dekat. Aktingnya menghadirkan intensitas psikologis yang konsisten, diperkuat oleh chemistry dengan Faradina Mufti dan para pemeran lain. Sehingga dinamika friksi dalam cerita semakin tumbuh dan hidup. Rapuh dan emosional. Interaksi di antara mereka mem-build up ketegangan sekaligus empati, menjadikan hubungan antarkarakter sebagai salah satu aspek paling meyakinkan dan bernilai dalam film ini. Sebab sekecil apapun perannya, semuanya bekerja dengan baik.

Tayang resmi di bioskop Indonesia sejak Kamis (27/11/2025), film ini menafsirkan ulang durhaka ala Malin Kundang melalui lensa yang jauh lebih suram. Meskipun demikian, beberapa elemen alami masih tampak, seperti luka di dahi Alif yang bukan sekadar simbol kasual, melainkan menggemakan mitos asli yang menjelma pintu mengarah pada trauma masa kecil yang meretakkan hubungan dengan ibunya. Kutukan tidak lagi tampil dalam bentuk perubahan manusia menjadi batu, tetapi dalam wujud ketegangan batin, di mana jiwa Alif mengeras oleh masa lalu yang ia sembunyikan, identitas yang ia tolak, dan luka yang terus ia ingkari.

In the end, Legenda Kelam Malin Kundang is a heartfelt film that’s simply a joy to experience. Definitely one of the must-watch titles of the year. (7.5/10)



Firdi Ramadhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar