Pages

Bahasa Indonesia - Ujian Praktik





Malam ini, cuaca nampaknya sedikit mendung. Dingin tak ragu menyelimuti malam yang bisa dibilang sunyi, walau terkadang derik jangkrik mampu menelusup ke rongga telinga siapa pun dari kejauhan.

Anna dan Clara adalah mahasiswi yang akan menyelesaikan skripsinya. Untuk itu, mereka mengunjungi rumah salah satu dosen mereka yang terletak cukup terpencil dimana jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya begitu jarang. Mereka datang dengan maksud, mereka ingin meminta saran atas skripsi yang mereka buat itu.


Anna   : “Permisi...”

Adam  : “Mari silakan masuk. Maaf rumahnya berantakan,”

Clara    : “Gak apa-apa.”

Adam  : “Silakan duduk. Sebentar ya, biar saya siapkan minum,”

Clara    : “Duh gak usah ngerepotin, kita juga cuma sebentar kok,”

Adam  : “Sudah, ngga ngerepotin kok.” (pergi)


Adam kembali sambil membawa dua gelas minuman. Tanpa sepengetahuan Anna dan Clara, sebenarnya dalam minuman tersebut telah tercampur obat tidur.


Adam  : “Ada keperluan apa kemari, ya”

Anna   : “Kami mau konsultasi skripsi kami,”

Clara    : “Iya,”

Adam  : “Begitu, ya. Coba saya lihat skripsinya,” (Anna dan Clara menyerahkan skripsi mereka masing-masing) “Oh sampai lupa gini, sambilan diminum tuh airnya.”

Anna   : “Iya, makasih”

Clara    : “Hmm, ngomong-ngomong kalungnya bagus. Artinya apa, ya?”

Adam  : “Ini pemberian turun temurun dari leluhur saya.”

Clara    : “Emang umur Pak Adam berapa?” (sambil memegang kepalanya, pusing)

Anna   : “Sssstt.. gak sopan banget sih kamu” (Anna menyenggol Clara) “Kita kan kesini buat nanyain skripsi, bukan malah wawancara masalah pribadi” (lemas, dan kemudian pingsan)

Adam  : “Sudah, tidak apa-apa.” (menidurkan kepala Clara). “Sarah,”

Sarah   : (datang, berdiri di samping Anna)

Adam  : “Siapkan semuanya.”


Sarah adalah anak dari Adam, wajahnya rusak terkelupas. Ia menggeret tubuh lunglai Anna dan Clara. Membawanya ke suatu ruangan. Mengikat pergelangan tangan beserta kaki mereka dan membungkus kepala mereka dengan kantong plastik. Dengan terbatuk-batuk, Clara dan Anna siuman dari pingsannya.


Sarah   : “Kalian sudah bangun?” (membuka kantong plastik yang membungkus kepala Anna dan Clara)

Clara    : “Siapa lo!,”

Sarah   : “Saya Sarah. Selamat datang di rumah kami,”

Clara    : “Kenapa lo lakuin ini? Apa salah kita?,”

Anna   : “Lepasin!”

Sarah   : “Mereka menginginkan kalian, karena mau hidup lebih lama. Lihat muka saya, ini akan menjadi mulus lagi.”


Suara langkah kaki terdengar semakin lama semakin jelas. Adam mendekat, ia membawa sebilah pisau tajam dan sebatang lilin yang telah menyala.


Anna   : “Pak Adam ?”

Adam  : “Kalian diem aja, ya,” (membelai rambut Anna) “Kalo kalian tenang, pasti ngga sakit kok.”

Sarah   : “Tenang, ya.”


Saat Adam hendak ingin memalu kepala Clara, tiba-tiba pintu rumah diketuk.


Sarah   : “Pa, siapa tuh?

Adam  : “Sarah, tolong coba kamu lihat sana,” (segera menutup mulut Anna dan Clara dengan lakban, kemudian membungkus kembali kepala mereka dengan plastik) “Kalian harus tenang.”

Sarah   : (keluar, membuka pintu) “Ada yang bisa saya bantu?”

Timo    : “Pak Adam nya ada?”

Sarah   : “Iya. Silakan masuk, saya panggilkan dulu”

Timo    : “Baiklah, terimakasih.”

Sarah   : (ke ruang penyekapan) “Pa, ada tamu”

Adam  : “Kali ini kalian masih selamat,” (menemui Timo) “Ada apa, Pak”

Timo    : “Kenalkan, saya Timo” (jabat tangan dengan Adam)

Adam  : “Adam”

Timo    : “Begini, Pak. Saya kemari disuruh Pak RT mau pinjam Kartu Keluarga. Boleh?”

Adam  : “Tunggu sebentar” (menoleh ke arah Sarah) “Sarah, siapkan minum”


Sementara Adam dan Sarah masuk ke rumah lebih dalam lagi, Timo memerhatikan isi rumah itu. Aneh. Hingga dia mendengar desah napas seseorang dari sebuah ruangan. Timo pun penasaran, dan mengambil kesimpulan untuk mendekati ruangan tersebut. Timo mengintip, di ruangan itu ada dua orang disekap. Tanpa berpikir panjang, dia memutuskan untuk menyelamatkan mereka.


Timo    : “Kenapa kalian bisa disekap gini, sih?” (sambil berusaha melepaskan plastik dan membuka ikatan tali di pergelangan tangan Clara)


Belum berhasil Timo menyelamatkan Anna, tetapi Adam dan Sarah datang. Timo dan Clara bersembunyi di balik perabotan yang ada dalam ruangan tersebut. Nahas, Anna akan dibunuh oleh Adam.


Adam  : “MANA MEREKA,”

Anna   : “Gue gak tau!”

Adam  : “Kamu jangan bohong! DIMANA MEREKA!”

Anna   : (geleng-geleng)

Sarah   : Bunuh saja, Pa! Lama!”


Akhirnya, leher Anna dicekik dengan kuat hingga napasnya tersendak. Tubuhnya hanya bisa meronta sebagai usaha perlawanan. Namun percuma, Adam jauh lebih kuat dibandingkan dirinya, Anna pun pasrah. Kemudian tangan kirinya dipotong dan berakhir dengan kematian Anna.


Timo    : “AAAAAAAAA”

Clara    : “AAAAAAAAA” (bersamaan dengan Timo menyerang Adam dan Sarah)

Timo    : (Memukul punggung Adam dengan kayu)

Clara    : (Saling jambak dengan Sarah)


Tenaga dari Clara lebih kuat ketimbang tenaga yang dimiliki Sarah. Ini disebabkan karena kekuatan dalam diri Clara datang berkali-kali lipat dari luapan amarah yang sedari tadi sudah berada di ubun-ubunnya. Sarah tak mampu melawan. Cekikan, jambakan, cakaran dari Clara membuat Sarah lelah dan tak berdaya. Hingga satu hantaman keras diayunkan ke wajah cacat Sarah, menyisakan rasa pedih dan membuat darah mengucur. Sarah pun tewas.
Sementara itu, Timo pun berusaha melawan Adam dengan sisa-sisa tenaganya. Tetapi rupanya sisa tenaga itu tak mampu melumpuhkan Adam, malahan dia yang terjerembab ke lantai yang dingin lembab. Tanpa ada rasa kasihan, Adam langsung menghujam dada Timo dengan pisau dapur, lagi-lagi darah tumpah membasahi lantai. Senyum kemenangan tersimpul di wajah Adam. Ia tersadar bahwa anaknya juga tak bernapas lagi.


Adam  : “Anakku..” (memangku kepala Sarah)


Clara bersembunyi di ruang tamu, Adam mencarinya.


Adam  : “Clara... Clara... CLARA! DIMANA KAMU,”


Adam menemukan keberadaan Clara. Mereka saling mempertahankan diri. Clara berhasil membebaskan diri dari terkaman Adam. Tetapi dengan cekatan Adam mengambil bujur dan anak panah di atas meja. Lantas melepaskan anak panah itu dan kemudian mengenai betis Clara. Nyeri langsung saja menyerang Clara, ia meringis kesakitan. Kakinya sudah tidak bisa diajak berdiri, melangkah, apalagi berlari. Ia sudah tidak punya harapan lagi. Adam datang dengan santai sambil di tangannya terdapat sebilah pisau yang terlihat berkilau hingga Clara merasa silau. Langsung saja, pisau itu diarahkan ke pundak Clara hingga Clara kehilangan nyawa.


Darah menyambut kemenangan Adam. Adam pun menyeringai lebar.

Firdi Ramadhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar