Pages

Evils Old House - Part 2





Rumah Nanda terbuat dari papan-papan jati. Terlihat kokoh. Pintu dibukanya lebar. Peter dan kawan-kawannya memerhatikan setiap bentuk bangunan yang dirasa cukup aneh.

“Silakan masuk,” ucapnya datar, mempersilakan. “Dan listrik belum ada, maklum di tengah hutan,” Kemudian Peter, Lia, Aldo, Rara, dan Nisa memasuki rumah tersebut dan langsung duduk di kursi kayu tanpa pernah disuruh. “Di sini, saya tinggal berempat. Saya panggil mereka dulu.” Nanda lalu berjalan pelan memasuki rumah lebih dalam. Sementara Peter dan yang lainnya mengamati rumah ini tanpa ada yang terlewati.

Nanda keluar dengan diikuti oleh 3 orang lainnya. “Ini, kenalkan keluarga saya”

“Rama”

“Anna”

“Joe”

Mereka telah memperkenalkan diri masing-masing. Lia terus memerhatikan mereka, terutama Rama. Sorot mata Rama begitu tajam, seakan menelanjangi batin Lia. Sepertinya Rama mengetahui dirinya sedang diamati oleh Lia, ia menoleh, Lia langsung menunduk tak berani.

“Kalian pasti lelah. Sebaiknya kalian ikut kami makan malam.” Tawar Nanda sembari menyunggingkan senyum.

Anna mengangguk pelan, “Kebetulan, tadi saya baru selesai buat steak.”

“Hah?,” Rara melongo heran, “Ngga di kota, ngga di hutan menunya kok sama ya”. Mereka pun serempak tertawa geli. Lalu beranjak mennggalkan ruang tamu menuju ruang makan. Makanan telah tersaji di atas meja berukuran besar. Aroma sedap menyeruak di indera penciuman semua orang yang ada di sana. Makanan-makanan itu kini telah berada di dalam mulut setiap orang.

Peter menyeruput minumannya, “Sumpah, enak sekali. Sama persis kayak makanan di restaurant bintang lima,” pujinya. “Ini semua masak sendiri?”

“Sebaiknya kalian menginap di sini, dan pulang setelah matahari terbit” Nanda mengalihkan pembicaraan dan tak ingin membahas makanan itu lebih jauh lagi.

°°°

Semua sudah terlelap, kecuali Lia. Bola matanya masih bergerak-gerak, ia mendengar suatu aktivitas di rumah ini. Lia bangkit lalu berjalan agak sempoyongan. Suara itu berasal dari sebuah ruangan yang pintunya terbuka hanya satu jengkal. Lia berusaha mengintip. Ia melihat ada 2 orang di dalam. Satu orang berbaring dan satunya lagi berdiri sambil menggenggam parang.

Lia kaget melihat ketika seseorang yang berdiri itu mengarahkan parangnya ke leher seseorang yang lainnya. Dengan cepat kepala dengan badan akhirnya terpisah. Darah begitu saja tercurah, genangan darah merambat mengalir dari bawah celah pintu. Lia terpana. Tiba-tiba kepala itu jatuh ke lantai, wajahnya menghadap Lia. Ternyata seseorang yang nasibnya sangat malang adalah Trisna.

“Kak Trisna?” ucapnya sangat pelan. Dan...

“Khhhh ... Mmmhh ...” napas Lia sangat sesak. Kepalanya dibungkus kresek hitam. Badannya dilempar hingga membentur tembok. Lia berusaha bangun. Gerakannya tertahan oleh kenyerian yang mengumpul di keningnya setelah dinding itu menghantam beberapa bagian tubuhnya. Lia berhasil berdiri dan menyeimbangkan badannya. Ia membuka kresek yang membungkus seluruh bagian kepalanya.

“Rama?”

Rama mendekatinya lantas menampar wajah seorang wanita lemah. Pisau dikeluarkan dari saku kanan celananya. Pisau itu ditusuk ke leher Lia. Lia mengerang kesakitan, ia mencabut pisau itu. Darah semakin banyak keluar dari lehernya. Rama tersenyum sinis kemudian melilit tubuh Lia dengan tambang.

Lia bergerak sembarang, berusaha melepaskan diri. Kedua kakinya meronta dan menendang-nendang. Tak disangka tubuh Rama seketika ditumbuhi bulu hitam legam, dagingnya menciut, mengurus, kedua tangannya memanjang. Lia sangat tercengang menyaksikan pemandangan seperti ini. Wajah Rama sangat hancur dengan rahang patahnya dan penuh dengan belatung. Rama merangkak, lalu mengikat tubuh Lia dalam posisi kaki di atas.

Leher Lia tertarik dan terjerat. Tubuhnya tergantung, darah terus mengucur dari lehernya yang koyak. Lia mengerang ajal. Kakinya meronta sebisanya, hingga akhirnya lemas dan diam. Lia mati. Darah terus menetes-netes.

°°°

“AAAAAAKKHHHHHH ...” tiba-tiba Rara menjerit. Peter, Aldo, dan Nisa terbangun dan panik. Rara menatap Aldo, matanya mendelik lebar dan memerah. Tatapannya menyiratkan kepedihan hati yang dalam.
“Ra .., kamu kenapa?” Nisa mengambil inisiatif. Rara menatap Nisa nanar. Air matanya berlinang dan memberontak. Histeris.

Terdengar suara langkah kaki yang agak cepat, semakin lama semakin keras. “Ini ada apa?” Anna bertanya. Di belakangnya Joe berdiri dengan ekspresi datar.

“Kami ngga tau, tiba-tiba aja teman kami jadi gini” jelas Aldo.

Anna memegang kening Rara. Rara semakin jadi, ia mendesis, dan tiba-tiba mengaum. Semua terkesiap. Anna terus membacakan mantra. Bibirnya komat-kamit.

“Joe, ambil kelopak bunga mawar!” perintah Anna. Joe langsung meninggalkan kamar dan datang kembali, kali ini dengan membawa kelopak bunga mawar lengkap dengan tangkainya.

“Saya boleh meminta setetes darah kalian masing-masing?” ucap Anna lagi.

“Darah?” Peter nampak heran.

“Demi keselamatan teman kalian” Joe menyahut.

“Sudah ngga apa-apa, Ko” Nisa menyimpulkan. Lalu telunjuk tangan kiri Peter, Nisa, dan Aldo ditusuk menggunakan taring anjing oleh Joe. Darah mulai menetes. Darah-darah itu dioleskan pada sehelai kelopak bunga mawar, kemudian dimasukkan ke dalam mulut Rara hingga tertelan. Rara sadar.

Mata Rara kini telah terbuka, “Aku kenapa?” Rara berusaha duduk tapi Nisa mencegahnya.

“Tadi kamu ngigo, Ra” terpaksa Peter berbohong.

Nisa tersenyum, “Sudah, kamu tidur aja lagi, Ra”

Mereka bersyukur Rara telah sadar. Entah tadi dia kenapa. Kerasukan?. Ah sudahlah. Mereka hanya bisa mengira-ngira. Nisa dan Rara tertidur kembali. Peter dan Aldo berjaga.

“Ko, aku curiga deh sama pemilik rumah ini” kata Aldo menghenyak lamunan Peter.

“Perasaan kamu aja kali,” gumam Peter

Aldo menghela napas panjang, “Tapi, Ko.. aku” ucapannya tertahan, ia menoleh-noleh sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Bagaimana kalo kita buktiin aja” sambungnya lagi.

“Kalo itu mau kamu. Ayo kita buktiin”. Peter dan Aldo kemudian keluar mengelilingi dan memantau setiap sudut rumah. Aldo membawa pipa besi sedangkan Peter membawa senapan angin. Mereka buru-buru sembunyi ketika Nanda lewat, ia membawa nampan besar dan ditutupi tudung saji yang terbuat dari alumunium. Nanda berjalan penuh irama, makhluk aneh dengan mata merah membara mengikutinya. Makhluk itu sangat menyeramkan. Merangkak.

“Itu apaan?” bisik Aldo.

“Ssstt”

Nanda dan makhluk itu sudah memasuki ruangan yang sangat remang. Peter berusaha mengintip pada lubang kunci. Ia terhenyak, sesekali terlihat bengong.

“Kenapa, Ko?” pertanyaan Aldo tak dijawab.

°°°

Kuku panjang yang dimiliki makhluk ‘aneh’ itu menyobek perut mayat Lia. Usus terlihat begitu licin dan sangat mudah keluar bersama darah yang masih terlihat segar. Matanya dicongkel sebelah, lalu dilahap oleh Nanda. Joe juga asyik menampung tetesan darah yang keluar dengan cekungan yang dibuat dari kedua tangannya, lantas segera diteguknya habis. Makhluk aneh itu sudah tak ada di sana, entah dia di mana.
Kekhawatiran langsung menyeruak.

°°°

“Ra? Rara? RARA? Kamu dimana?” Nisa khawatir. Rara tak ada di sampingnya. Ia bangkit dari ranjang. Namun Anna berdiri di depannya.

“Mau cari siapa?” tanyanya judes. “Rara?”

“Iya, dia dimana?

“Tuh,”

Nisa lemas. Ia menjerit histeris. Rara telah tiada, kepalanya terbalik, sedikit lagi putus. Nisa memerhatikan jasad Rara, ternyata mata kirinya kosong. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya yang merona.
Air mata yang menetes diusapnya, “DIA KENAPA? RARA KENAPA?” tanya Nisa tegas. Ia melihat tangan Anna menggenggam bola mata, milik Anna. Amarah pun langsung memuncak, ia meraih paku di atas meja kayu yang antik. Paku itu dilemparnya keras hingga mengenai mata Anna. Anna mengaduh kesakitan. Nisa juga mengambil vas bunga berbahan keramik dan memecahkannya di kepala Anna. Tubuh Anna ditendang Nisa berkali-kali. Anna ambruk. Dengan geram, Nisa menginjak wajah Anna dengan keras, sampai akhirnya tengkorak wajah Anna retak. Napas Anna pun terhenti.

°°°

Handle pintu bergerak naik-turun. Peter dan Aldo menjauh. Keluarlah Nanda dan Joe dengan mulut yang belepotan darah. Bau amis tercium menusuk hidung, memualkan perut.

“Kalian sudah tau semua ini ‘kan?”  Joe tersenyum sinis dan dingin. Pipa di tangan Aldo dienggam semakin kuat, Aldo berlari ke arah Joe lantas mengayun dan mendaratkan pipa tersebut ke kepala Joe. Kepala Joe remuk, darah muncrat kesana-kemari, membasahi lantai, mengalir tak tentu arah.

Aldo dicekik Nanda, hingga suaranya tak bisa keluar, sampai akhirnya napasnya berhenti berhembus, jantung pun segan untuk berdetak. Aldo tewas.

“Ko Peter!,” sorak Nisa, “Mereka jelmaan dedemit! Mereka takut cahaya! Kekuatan mereka akan hilang kalau ada cahaya!” Nisa membawa obor, “Sebentar lagi fajar muncul”

Nisa menuangkan bensin ke rumah kayu itu. Ia langsung berlari diikuti oleh Peter dan melepaskan obor di tangannya. Si jago merah langsung melahap rumah beserta isi-isinya, termasuk Nanda. Nanda terjebak dalam kepungan api yang menyala hebat. Ia tak bisa melarikan diri.

Di luar, langit masih sedikit gelap. Api yang membakar rumah sebentar lagi padam. Hampir semua telah berubah menjadi abu.

“Akhirnya kita selamat” lirih suara Peter merobek malam. “Jam setengah enam” wajah Peter sumringah.
“Syukurlah, Ko” Nisa membalas senyuman itu, “Tunggu deh, Ko. Nanda. Joe. Anna,” ia berpikir, “Rama. Rama mana?”

Ketegangan mulai muncul kembali. Tiba-tiba suatu kekuatan menyobek leher Nisa, darah mengalir lagi, membasahi pakaiannya, dia langsung roboh. Srrr.... kekuatan itu menyeret Nisa dan menghempaskannya ke ranting pohon yang runcing. Belulangnya terasa remuk, punggungnya tertusuk ranting itu hingga menembus dada. Darah semakin deras.

“NISAAAA ..” teriak Peter. Kemudian melepaskan tembakan menggunakan senapan angin yang sedari tadi dipegangnya. Meleset. Berkali-kali selalu gagal mengenai sasaran. Makhluk yang sebenarnya Rama itu bergerak begitu cepat. Tinggal satu peluru yang tersisa.

“Kali ini ngga boleh gagal,” Peter sangat yakin, dan langsung menembak. Berhasil. Dia sangat senang. Makhluk itu megap-megap tak berdaya. Peter mengahmpirinya kemudian menancapkan senapan itu ke tubuh jelmaan dedemit rumah tua.

Fajar telah terbit di ufuk timur, dedemit itu gosong terkena sinar matahari pagi. Peter selamat dan segera pergi meninggalkan hutan angker dengan menyisakan pedih di hati karena kehilangan semua temannya ...

°°°


Badan Nanda tertindih sisa-sisa papan, jemarinya masih bergerak sementara Peter telah menjauh ---

-The End-

Peter diperankan oleh  Peter Taslim
Nisa diperankan oleh  Nabila Khaerunisa Thazila
Rama diperankan oleh Firdi Kharisma Ramadhan
Nanda diperankan oleh Harnanda Ikhwan
Joe diperankan oleh Joe Taslim
Aldo diperankan oleh Alfi Nurwondo
Anna diperankan oleh Tania Septiana
Rara diperankan oleh Alvira Ramadhani
Lia diperankan oleh Nuke Amalia Piliang
Trisna diperankan oleh Trisna

Firdi Ramadhan

7 komentar:

  1. astaga :o
    knpa gue yg pertama Mati?? -_-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasian... *sodorintissue
      Makanya jangan suka keliaran di hutan malem22 :p

      Hapus
  2. bagus walaupun singkatt ,,
    :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga suka buat yang panjang-panjang. Suka bosen :D --Asri

      Hapus
  3. eh, ap lg jdul karyamu itt ?
    lupa saia ..

    BalasHapus